Rivalitas yang Berujung Der Klassiker di Wembley

 
thumbnail Martin Rose/Getty Images

“Terima kasih karena telah menciptakan permainan yang kami cintai”. Demikian kata-kata yang tertera di salah satu billboard Borussia Dortmund yang ditujukan pada publik Inggris.

Ya, malam nanti salah satu stadion legendaris Inggris, Wembley, akan mengasuh salah satu partai final terakbar musim ini: Bayern Muenchen vs Borussia Dortmund. Sedikit ironis memang. Di saat salah satu asosiasi sepakbola tertua di dunia, FA, merayakan 150 tahun ulang tahunnya, mereka terpaksa hanya jadi host yang baik. Di hadapan publiknya sendiri, Inggris harus mengasuh final untuk dua tim dari salah satu rival terbesarnya, Jerman.

Namun ironi Inggris yang tak mampu berpesta di kandangnya sendiri sepatutnya tidak mengurangi fokus pada Bayern dan Dortmund, kedua tim terbaik di Eropa saat ini. Dengan mengusung pola bermain yang berbeda, keduanya mampu mematahkan dua raksasa asal Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Bayern menggulung Barcelona dengan aggregat 7-0, sementara Dortmund menghempaskan Real Madrid melalui agregat 4-3. Partai penuh gengsi El Classico pun akhirnya tak tercipta di Wembley dan berganti dengan Der Klassiker.

Bagi Bayern dan Borussia sendiri, Der Klassiker di final ini seakan jadi puncak persaingan keduanya yang muncul dalam 3 tahun terakhir. Kebangkitan Dortmund dari masalah finansial (ditandai dengan juara Bundesliga dua tahun berturut-turut) kemudian dijawab oleh Bayern di musim ini dengan menciptakan salah satu tim terbaik di Jerman sepanjang masa. Berbagai rekor kemudian dipecahkan oleh Heynckes dan anak-anak asuhnya di Bundesliga, mulai dari kebobolan paling sedikit hingga rentetan kemenangan terbanyak.

Sebagai raksasa sepak bola Jerman dan Eropa, tentu Bayern tak ingin panggungnya dicuri terus menerus oleh Borussia, tim yang kini populer dan disukai banyak fans lain.

Menilik sejarah pertemuan mereka di tahun-tahun terakhir, bisa dikatakan Dortmund memiliki keunggulan. Dari 9 kali bertemu di tiga tahun terakhir, mereka bisa mengalahkan Bayern 5 kali. Sementara Bayern hanya pernah 2 kali menang atas Robert Lewandowski dan kawan kawan.

Namun, dua kali kemenangan FC Hollywood ini datang dalam 4 pertemuan terakhir (dua lainnya berakhir imbang). Ini bisa diartikan dua hal, yaitu Bayern yang mulai mengejar Dortmund dalam kualitas permainan, atau Jupp Heynckes yang mulai hafal dengan strategi Juergen Klopp. Secara taktikal sendiri, ada tiga hal menarik yang bisa diamati dari pertemuan kedua tim ini.

Penguasaan Bola vs Transisi

Meski mampu menguasai Bundesliga dalam tiga tahun terakhir, baik Bayern dan Dortmund melakukannya dengan cara berbeda.

Di bawah instruksi Klopp, Dortmund jadi tim yang sangat pintar menggunakan momen transisi dari bertahan ke menyerang secara cepat untuk menghabisi lawan. Di awal-awal kebangkitan Borussia di lapangan hijau, mereka memang acap kali bertahan secara dalam kemudian menyerang dengan energi penuh lewat serangan balik. Bahkan, saat mengalahkan Bayern 2-0 pada Oktober 2010, pertemuan pertama di 3 tahun terakhir, Bayern sampai memiliki penguasaan bola hingga 65%.

Dengan melepaskan ball-possesion, Dportmund lebih memilih untuk menguasai zona. Ini juga diakui oleh Klopp yang memodelkan timnya (salah satunya) dari Arrigo Sacchi dan AC Milan di awal 90-an. Klopp akan mengisi latihan timnya dengan sesi “mengendalikan ruang” dan memposisikan pemainnya untuk mempengaruhi lawan, meski tanpa bola. Melalui sesi shadow play, Klopp pun mengajarkan timnya untuk memanfaatkan koordinasi dan waktu sebaik mungkin.

“Sebelumnya, kami hanya berlari mengejar lawan hingga capai. Namun, dengan memanfaatkan zona, saya belajar caranya membangun permainan dan tak hanya menghancurkannya,” ucap Klopp pada La Gazetta dello Sport mengenai cara bermain Dortmund.

Ini berbeda dengan gaya yang dimanikan oleh Bayern di bawahHeynckes. Secara aktif, Bayern berusaha menguasai dan merebut bola dari kaki lawan. Karena itu tak heran di UCL ini Bayern memiliki ball possesion hingga 54,2% per game, sementara Borussia hanya 44,9%. Tak jadi keanehan juga jika Bayern jadi tim yang paling agresif, dan telah mengoleksi 28 kartu kuning, dan BVB hanya mendapatkan 13.

Kedua pemain sayap, Franck Ribery dan Arjen Robben, yang semula terkenal egois dan tak pernah membantu pertahanan, pun kini aktif turun-naik dan membantu David Alaba dan Philipp Lahm dalam menahan gempuran dari sayap lawan.

Sebagaimana Barcelona yang menggunakan penguasaan bola sebagai salah satu cara bertahan, Bayern pun memiliki prinsip yang sama. Dengan menguasai ball-possesion, Bayern merebut kesempatan lawannya untuk menyerang. Ini terbukti dengan Bayern yang hanya memberikan lawannya rata-rata 9,2 kali percobaan ke arah gawang dalam satu pertandingan, tertinggi diantara tim-tim lainnya yang bermain hingga minimal perempat final.

4-2-3-1

Mengandalkan gaya bermain yang berbeda, baik Bayern dan Dortmund sama-sama menggunakan formasi 4-2-3-1 saat bermain. Ini sesungguhnya mencerminkan tren yang sedang melanda Bundesliga dalam 5 tahun terakhir.

Hingga 2008, tim-tim Jerman acapkali menggunakan formasi 4-4-2 ala Jerman yang mengandalkan serangan melalui sayap. Namun, pada 2011, telah ada lebih dari 10 tim yang lebih memilih formasi 4-2-3-1. Tren ini pun diikuti dengan kencenderungan untuk memposisikan dua pemain tengah yang sama baiknya dalam bertahan maupun mengalirkan bola, ketimbang memasangkan satu hard-defensive midfielder dan satu playmaker.

Merebaknya tren ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tiga pelatih: Klopp, Joachim Loew, dan Lous Van Gaal ketika menangani Die Roten.

Kala itu, Klopp sempat mengubah peran Nuri Sahin dari seorang attacking midfielder menjadi pemain tengah yang berduet dengan Tinga di lini tengah. Sementara itu, di timnas Jerman Loew mulai memasangkan Michael Ballack dan Simon Rolfes di tengah untuk menopang Mesut Oezil sebagai pembagi bola di area sepertiga lapangan akhir.

Kemunculan Bastian Schweinsteiger sebagai salah satu pemain tengah terbaik di dunia pun patutnya diatributkan pada perubahan formasi ini. Kala itu, Van Gaal menarik Schweini dari sayap dan memasangkannya dengan Van Bommel sebagai double-pivot. Schweini yang memang tidak memiliki kecepatan untuk bermain di posisi sayap, atau sebagai playmaker di depan, kemudian seakan menjelma jadi pemain baru dengan peran barunya di tengah.

Menurut salah seorang jurnalis terkemuka asal Jerman, Uli Hesse, tren ini sebenarnya berpihak pada jenis sepak bola cantik, atau sepak bola menyerang yang beresiko. Ini dikarenakan 4-2-3-1 juga disertai dengan adanya kebutuhan untuk melakukan pressing tinggi di daerah pertahanan lawan yang secara fisik dan mental akan menghabiskan energi pemain.

Namun, bagi pecinta sepakbola yang sedang menanti partai final malam nanti, kedua tim yang mengusung permainan menyerang tentu akan jadi satu hal yang dinanti-nantikan.

Defensive Forward

Selain karena formasi 4-2-3-1, benang merah antara Bayern dan Dortmund terletak pada penggunaan seorang ujung tombak yang juga fasih dalam bertahan, atau lebih dikenal dengan defensive forward. Dalam hal ini, Bayern menggunakan Mario Mandzukic sementara Dortmund memiliki Lewandowski.

Selain karena kemampuan dalam menjebol gawang lawan, keduanya memang acap dipuji karena kerja keras mereka dalam membantu bertahan. Ini, misalnya, terlihat dari jarak yang di-cover oleh Lewandowski dan Mandzukic di Liga Champions.

Bermain selama 630 menit, Mandzukic telah “menempuh” jarak sejauh 76,5 km, atau rataan 10,9 km/pertandingan. Sementara Lewandowski lebih unggul dengan rataan 11,1 km/pertandingan, atau total 123,1 km dalam 1.000 menit permainan.

Namun, satu data yang menunjukkan bagaimana baik Lewandowski maupun Mandzukic acap kali membantu dengan defensive action-nya, adalah jumlah pelanggaran yang dilakukan kedua tim. Sejauh ini, Lewandowski telah mencetak 25 kali foul, lebih banyak dari kedua pemain tengah Dortmund, yaitu Bender (15 kali foul), dan Guendogan (7). Sementara itu Mandzukic juga telah melakukan 25 pelanggaran, padahal Martinez hanya 22 kali dan Schweisnteiger 13 kali.

Selain dengan defensive action, kedua striker yang apik mengontrol bola dengan kondisi membelakangi gawang pun fasih melakukan pressing terhadap center-back, atau menarik keluar bek lawan dengan bergerak melebar. Keduanya memang bukan bertipe poacher yang lebih sering menunggu bola di kotak penalti.

Satu hal yang bisa jadi catatan adalah, jika mengembalikan khitah seorang striker untuk mencetak gol, Lewandowski jelas lebih unggul dibanding Mandzukic. Sepanjang penyelenggaraan Liga Champion musim ini, ia telah mencetak 10 gol dan 2 assist. Sementara itu, Mandzukic hanya berkontribusi 2 gol dan 1 assist dalam 9 pertandingan. Empat gol yang dicetak Lewandowski ke gawang Real Madrid juga jadi salah satu penampilan individual paling baik di kompetisi musim ini.

Perkiraan susunan pemain:

Borussia Dortmund: Weidenfeller; Schmelzer, Subotic, Hummels, Piszcek; Bender, Gundogan; Grosskreutz, Reus, Blaszczykowski; Lewandowski.

Bayern Muenchen: Neuer; Lahm, Boateng, Dante, Alaba; Schweinsteiger, Martinez; Robben, Muller, Ribery; Mandzukic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s